Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Prof. Dr. H. Akhyar Hanif, Tegaskan Guru Besar Harus Aktif Berkarya dan Berkolaborasi Usai Terima KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025

×

Prof. Dr. H. Akhyar Hanif, Tegaskan Guru Besar Harus Aktif Berkarya dan Berkolaborasi Usai Terima KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Publika.my.id Jakarta – Prof. Dr. H. Akhyar Hanif  salah satu Guru Besar di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat, menegaskan bahwa predikat Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik tertinggi, melainkan amanah besar yang harus diwujudkan melalui karya ilmiah, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara.

Example 300x600

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Akhyar Hanis usai menerima Keputusan Menteri Agama (KMA) tentang Penetapan Guru Besar dalam acara Penyerahan KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025 di Jakarta.

Menurutnya, arahan Menteri Agama agar Guru Besar terus berkarya merupakan pesan yang sangat penting bagi seluruh akademisi di Indonesia. Seorang Guru Besar, kata dia, harus menjadi motor penggerak pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi masing-masing.

Guru Besar bukan hanya menjadi tujuan setiap akademisi, tetapi merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Seorang Guru Besar harus terus berkarya, mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa, mengembangkan pendidikan di kampus, menebarkan manfaat, serta mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara melalui ilmu yang dimiliki,” ujar Prof. Dr. H.Akhyar Hanif.

Ia menjelaskan bahwa setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, dunia pendidikan tinggi harus mampu menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan karakter generasi masa kini tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik dan moral.

Setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing. Kalau kita melihat saat ini, generasi muda memiliki cara berpikir dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, Guru Besar harus mampu memahami perubahan tersebut sekaligus mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki mahasiswa,” katanya.

Menurut Prof. Akhyar Hanif, perguruan tinggi tidak cukup hanya melaksanakan proses pembelajaran di ruang kelas. Kampus harus menjadi pusat lahirnya inovasi, penelitian, dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Ia menilai Guru Besar memiliki tanggung jawab besar dalam memperkuat budaya riset. Penelitian yang dilakukan para akademisi harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional.

Guru Besar perlu terus melakukan riset, mengembangkan potensi-potensi akademik, memperkuat inovasi, serta menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari riset itulah lahir berbagai solusi yang dapat mendukung kemajuan bangsa,” jelasnya.

Selain itu, Prof. Yar Anis juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan Guru Besar.

 Menurutnya, kemajuan perguruan tinggi tidak dapat dicapai apabila seluruh unsur akademik berjalan sendiri-sendiri.

Mahasiswa, kata dia, harus aktif mengembangkan kemampuan akademik, memperkuat budaya membaca, meneliti, berdiskusi, dan terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sementara dosen dan Guru Besar berkewajiban menjadi pembimbing sekaligus mitra dalam melahirkan inovasi dan gagasan yang bermanfaat.

Mahasiswa tidak cukup hanya hadir di bangku kuliah. Mereka harus aktif mengembangkan kapasitas akademik, kemampuan riset, serta memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat. Di sisi lain, dosen dan Guru Besar harus menjadi penggerak inovasi dan mitra kolaborasi bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Ia meyakini bahwa kolaborasi yang kuat antara mahasiswa, dosen, dan Guru Besar akan menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan Indonesia pada masa mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. H. Akhyar Hanif juga mengungkapkan rasa syukur atas amanah yang diberikan kepadanya melalui penetapan sebagai Guru Besar.

Alhamdulillah, saya merasa bangga dan bahagia atas amanah ini. Namun yang lebih penting, gelar Guru Besar ini menjadi tantangan bagi saya untuk terus memperkuat dan memperdalam keilmuan yang selama ini saya tekuni, khususnya di bidang ilmu agama sebagaimana arahan Bapak Menteri Agama,” tuturnya.

Ia menyadari bahwa jabatan Guru Besar membawa tanggung jawab moral dan akademik yang semakin besar. Karena itu, dirinya berkomitmen untuk terus mengembangkan keilmuan, meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memperluas penelitian, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa.

Prof. Yar Anis juga memohon doa dari seluruh sivitas akademika, mahasiswa, kolega, serta masyarakat agar mampu menjalankan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Saya memohon doa dari semua pihak agar tugas dan tantangan ini dapat saya laksanakan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan sehingga ilmu yang kami miliki benar-benar bermanfaat bagi umat,” ujarnya.

Penyerahan KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi penguatan kualitas pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia. Kehadiran para Guru Besar baru diharapkan mampu memperkuat tradisi akademik, meningkatkan kualitas riset, memperluas kolaborasi, serta melahirkan inovasi yang memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional.

Bagi Prof. Dr. H. Akhyar Hanif, gelar Guru Besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas. Ia berharap ilmu pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat terus memberikan manfaat, mencetak generasi unggul, serta memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya pemikiran dan solusi bagi kemajuan Indonesia.(jfr)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *