Publika.my.id Jakarta, 29 Juli 2026 – Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan di kawasan transmigrasi hanya dapat terwujud apabila didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang unggul serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Pernyataan tersebut disampaikan Mentrans saat memberikan arahan dalam kegiatan pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Menurut Iftitah, pembangunan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik maupun investasi. Keberhasilan pembangunan harus ditopang oleh peningkatan kualitas SDM yang mampu menghadirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan di lapangan.
“Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan tanpa hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi di tempat atau di kawasan itu,” ujar Iftitah.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah memfasilitasi hadirnya SDM unggul di kawasan transmigrasi melalui kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan riset, inovasi, dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
“Kami pemerintah hanya memfasilitasi hadirnya SDM unggul di kawasan-kawasan yang betul-betul membutuhkan kehadiran Bapak dan Ibu sekalian,” katanya.
Dalam arahannya, Iftitah mengingatkan para peserta agar tidak menganggap pembekalan sebagai kegiatan seremonial semata. Ia meminta seluruh peserta menjalankan tugas selama empat bulan dengan penuh dedikasi dan menghasilkan karya nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
Tolong berikan totalitas, tolong berikan yang terbaik selama empat bulan di sana,” tegasnya.
Mentrans juga menekankan pentingnya setiap peserta memiliki tujuan kerja yang jelas dengan menggunakan kerangka berpikir yang sistematis, mulai dari masukan (input), proses, keluaran (output), hasil (outcome), hingga dampak (impact). Menurutnya, pendekatan tersebut akan membantu memastikan setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat berkelanjutan.
Selain itu, para peserta diminta mampu beradaptasi dengan kondisi sosial masyarakat setempat, membangun komunikasi yang baik, serta menghindari perdebatan yang tidak produktif.
“Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan perlu dibuktikan melalui kerja dan manfaat nyata di lapangan,” ujar Iftitah.
Pada tahun 2026, Tim Ekspedisi Patriot beranggotakan 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim. Mereka akan melaksanakan penugasan di 53 kawasan transmigrasi, yang terdiri atas 41 kawasan transmigrasi prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan transmigrasi di Papua.
Dari total 10.359 pendaftar, sebanyak 246 ketua tim dan 1.230 anggota dinyatakan lolos seleksi. Setiap tim terdiri atas satu ketua dan lima anggota yang berasal dari perguruan tinggi mitra penyelenggara.
Program Tim Ekspedisi Patriot 2026 merupakan kelanjutan dari pelaksanaan program pada tahun 2025. Fokus pelaksanaannya diarahkan untuk menindaklanjuti hasil riset sebelumnya sekaligus merintis pengembangan produk-produk unggulan di kawasan transmigrasi melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Program ini menjadi bagian dari agenda 5T Kementerian Transmigrasi melalui Program Transmigrasi Patriot yang bertujuan mempertemukan ilmu pengetahuan dengan berbagai persoalan nyata di kawasan transmigrasi serta mendorong lahirnya generasi muda sebagai agen perubahan dalam pembangunan daerah.(jfr)



















