Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Sekjen DPP PERPADI Burhanuddin Hadiri Pameran Inagritech 2026, Dorong Revitalisasi Penggilingan Padi Demi Efisiensi Industri Beras Nasional

×

Sekjen DPP PERPADI Burhanuddin Hadiri Pameran Inagritech 2026, Dorong Revitalisasi Penggilingan Padi Demi Efisiensi Industri Beras Nasional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Publika.my.id Jakarta, 28 Juli 2026 – Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (DPP PERPADI), Burhanuddin, menegaskan pentingnya revitalisasi penggilingan padi sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi industri perberasan nasional sekaligus menekan biaya produksi beras. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Pameran Inagritech 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Example 300x600

Di sela-sela pameran yang menghadirkan berbagai inovasi teknologi pertanian dan mesin pengolahan hasil panen tersebut, Burhanuddin menjelaskan bahwa industri penggilingan padi di Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar akibat ketidakseimbangan antara jumlah penggilingan padi dengan kapasitas produksi gabah nasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki lebih dari 150 ribu unit penggilingan padi yang tersebar di berbagai daerah. Jumlah tersebut dinilai telah melampaui kemampuan produksi gabah dalam negeri sehingga memicu persaingan yang sangat ketat antar-penggilingan untuk mendapatkan bahan baku.

Jumlah penggilingan padi di Indonesia sudah melebihi kapasitas produksi gabah. Produksi gabah kita belum mencukupi sehingga antar-penggilingan saling berebut gabah. Akibatnya harga gabah terus naik,” ujar Burhanuddin.

Ia menilai kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya produksi beras. Karena itu, pemerintah diharapkan terus meningkatkan produksi gabah nasional melalui berbagai program penguatan sektor pertanian agar pasokan bahan baku bagi industri penggilingan semakin memadai.

Selain peningkatan produksi gabah, Burhanuddin mengatakan PERPADI juga terus mendorong program revitalisasi penggilingan padi secara menyeluruh. Revitalisasi tersebut tidak hanya menyasar pembaruan peralatan produksi, tetapi juga peningkatan tata kelola usaha agar lebih modern, efisien, dan berdaya saing.

Salah satu fokus utama program revitalisasi adalah mendorong migrasi penggunaan mesin penggilingan berbahan bakar solar menuju penggunaan energi listrik. Menurutnya, perubahan tersebut mampu memberikan penghematan biaya operasional yang sangat signifikan.

Kalau penggilingan padi bermigrasi dari diesel ke listrik, biaya operasional bisa berkurang sekitar 50 persen. Dengan biaya produksi yang lebih rendah, harga beras diharapkan ikut lebih terkendali,” jelasnya.

Burhanuddin menambahkan, penggunaan mesin berbasis listrik juga memiliki berbagai keunggulan dibandingkan mesin diesel. Selain lebih hemat biaya operasional, mesin listrik dinilai lebih efisien, mudah dalam perawatan, serta mendukung produktivitas usaha penggilingan padi di tengah meningkatnya kebutuhan pangan nasional.

Revitalisasi yang digagas PERPADI juga mencakup modernisasi mesin penggilingan dengan teknologi yang lebih mutakhir sehingga mampu meningkatkan kualitas beras yang dihasilkan sekaligus mengurangi kehilangan hasil selama proses produksi.

Di bidang manajemen, PERPADI mendorong para pelaku usaha untuk menerapkan sistem administrasi dan pencatatan usaha yang lebih profesional. Langkah tersebut dinilai penting guna meningkatkan transparansi, efisiensi operasional, serta mempermudah akses pembiayaan bagi pelaku usaha penggilingan padi.

Tidak hanya berorientasi pada peningkatan efisiensi ekonomi, PERPADI juga mulai mengembangkan program industri penggilingan padi yang ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya mendukung target pengurangan emisi karbon nasional.

Burhanuddin menjelaskan bahwa program tersebut dilakukan melalui beberapa langkah strategis, antara lain migrasi penggunaan energi listrik, pemanfaatan limbah sekam padi menjadi sumber energi alternatif seperti biogas, serta pengembangan skema perdagangan karbon (carbon trading) yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.

Menurutnya, sebagian besar penggilingan padi skala kecil hingga menengah masih mengandalkan mesin diesel yang memerlukan solar industri. Selain biaya operasional yang relatif tinggi, penggunaan bahan bakar fosil juga memiliki dampak terhadap lingkungan.

Karena itu, transformasi menuju penggunaan energi listrik dipandang sebagai solusi jangka panjang yang mampu meningkatkan daya saing industri penggilingan padi Indonesia sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

Melalui kehadiran PERPADI dalam Pameran Inagritech 2026, Burhanuddin berharap berbagai inovasi teknologi pertanian dan mesin pengolahan hasil panen yang dipamerkan dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha penggilingan padi di seluruh Indonesia. Dengan dukungan teknologi modern, peningkatan produksi gabah, serta penguatan manajemen usaha, industri perberasan nasional diharapkan semakin efisien, mampu menjaga stabilitas harga beras, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.jelasnya(jfr)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *